Roadmap Renewable Energy: Perjalanan Menuju Energi Bersih

Renewable energy adalah salah satu proyek besar yang semakin diminati negara-negara besar, tak terkecuali di Indonesia. Seperti yang diketahui, pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai upaya dalam proyek ini, salah satunya pemasangan panel surya di beberapa gedung kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia).

Sayangnya, masalah terkait penerapan renewable energy ini tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi yang terlibat. Penerapan energi terbarukan tidak sesederhana memasang teknologi terbarukan dan menghubungkannya ke jaringan listrik. Dalam menerapkan renewable energy, ada beberapa hambatan yang harus dihadapi berbagai negara, begitu juga dengan Indonesia. Mari kita simak roadmap dari proyek renewable energy di dunia.

Dampak COVID-19 terhadap renewable energy

Seperti industri lainnya, renewable energy (energi terbarukan) juga menghadapi dampak baru akibat pandemi COVID-19. Menurut sektor pasar dan teknologi, risiko yang terjadi pada penerapan renewable energy di masa pandemi sangat bervariasi. Pada 5 April 2020, langkah-langkah isolasi di rumah telah mencapai puncaknya dengan lebih dari 4,2 miliar orang—lebih dari setengah populasi global—harus berada di rumah untuk waktu yang lama.

Meskipun pada awal Mei 2020 negara-negara di seluruh dunia mulai mencabut aturan isolasi di rumah secara bertahap, dampak pandemi ini masih cukup luas. Adanya aturan menjaga jarak telah memicu gangguan dan penundaan dalam konstruksi proyek yang akhirnya berdampak langsung pada pelaksanaan proyek listrik terbarukan, fasilitas bahan bakar nabati dan investasi panas terbarukan.

Begitu juga dengan pembatasan kegiatan bisnis, perjalanan dan penutupan perbatasan telah mengurangi permintaan energi di bidang transportasi dan industri serta menurunkan konsumsi bioenergi dan energi terbarukan lainnya. Semua faktor ini dapat membahayakan proyek berskala besar atau kecil, bahkan jika sedang berada pada tahap lanjutan.

Peluang investasi di sektor renewable energy semakin kuat

Akibat pandemi, beberapa negara sedang memperkenalkan program stimulus besar-besaran untuk menanggapi krisis ekonomi saat ini, sehingga dapat mendukung perekonomian mereka. Beberapa langkah stimulus ini mungkin relevan untuk energi terbarukan.

Oleh karena itu, pemerintah harus memperhatikan manfaat struktural dari energi terbarukan yang semakin kompetitif, seperti pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus mengurangi emisi dan mendorong inovasi teknologi. Dengan adanya persaingan energi terbarukan yang semakin kompetitif, investasi dalam renewable energy tentu semakin kuat.

Instalasi PLTA dan PLTS mampu melampaui minyak dan gas bumi pada 2024

Total kapasitas PLTA dan PLTS yang terpasang diperkirakan akan melampaui gas bumi pada 2023 dan batu bara pada 2024. PLTS sudah menyumbang 60% dari semua penambahan kapasitas terbarukan hingga 2025, sedangkan PLTA menyediakan 30% lainnya. Pertumbuhan cepat energi terbarukan variabel di seluruh dunia memerlukan perhatian kebijakan yang lebih besar untuk memastikan bahwa energi tersebut terintegrasi dengan aman dan hemat biaya ke dalam sistem kelistrikan.

Modal untuk pengadaan renewable energy akan semakin murah

Biaya renewable energy telah turun drastis dalam dekade terakhir. Sejauh ini, pilihan energi terbarukan sekarang dapat bersaing dengan bahan bakar fosil dalam hal harga per kWh. Secara global, industri bahan bakar fosil menerima sekitar $370 miliar subsidi, dibandingkan dengan $100 miliar untuk energi terbarukan. Faktanya, ada tanda-tanda bahwa energi terbarukan mungkin tidak memerlukan subsidi lebih lama lagi dan hal ini akan semakin menekan anggaran pemerintah.

Peran pemerintah dalam renewable energy

Sampai saat ini, pemerintah di seluruh dunia telah berkomitmen untuk mengurangi dampak negatif mereka terhadap lingkungan sampai batas tertentu. Sayangnya, masih ada banyak hambatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Namun seperti yang sudah dijelaskan di atas, kendala ini tidak sesederhana seperti yang terlihat. Negara-negara seperti Australia, AS, Arab Saudi, dan Federasi Rusia semuanya menghalangi aksi iklim global. Australia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar di dunia, AS dan Arab Saudi adalah pengekspor minyak terbesar, dan Rusia adalah pengekspor gas alam dan minyak terbesar. Di sisi lain, Ethiopia dan Maroko telah membuat kemajuan paling pesat sejak Perjanjian Paris pada 2015 lalu.

Bagaimana menurut Anda? Tertarik untuk mendukung upaya energi terbarukan? Yuk, sekarang waktunya bagi Anda untuk memanfaatkan renewable energy dengan memasang panel surya atap bersama SolarKita!

Written by Deslita Krissanta Sibuea | 10 Feb 2021

Add Comment

Comment

No comment