Melindungi Air dan Tanah Menggunakan Panel Surya

Kebutuhan listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi. Pembangunan pembangkit listrik tenaga air, nuklir, dan uap pun mulai ditambah di beberapa daerah. Hal ini dilakukan untuk memasok kebutuhan listrik, hingga masyarakat yang tinggal di daerah  pedalaman. Namun sayangnya, banyak isu lingkungan yang dikeluhkan dengan adanya pembangunan pembangkit listrik tenaga air, nuklir, dan uap ini. 

Isu lingkungan biasanya berfokus pada masalah bagaimana keberadaan pembangkit listrik yang semakin lama semakin merusak sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Bahan utama untuk pembangkit listrik ini semakin lama juga semakin berkurang. Di samping itu, beberapa bahan dasar pembangkit listrik ini juga berkontribusi pada kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dianggap merupakan solusi terbaik. Tenaga surya ini mampu menjadi bahan dasar pembangkit listrik yang tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

 

India menjadi negara yang menggunakan pembangkit listrik tenaga surya

Di tahun 2015, India mulai berinvestasi dengan membangun banyak pembangkit listrik tenaga surya. Negara ini bahkan membangun pembangkit listrik tersebut melintasi bagian atas kanal. Ini artinya, pembangkit listrik tenaga surya yang dibangun di India sangat besar. Melansir dari Reuters.com, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya ini dilakukan di negara bagian Gujarat, India. 

Para ahli dan profesional yang ada di India, menilai keberadaan pembangkit listrik tenaga surya ini sebagai suatu kreativitas dan inovasi teknologi canggih yang akan menjadi masa depan India. Pembangkit listrik tenaga surya ini memiliki dua keuntungan utama, yakni untuk membangkitkan listrik dan juga menjaga kelestarian lingkungan. 

Penggunaan tenaga surya ini memaksimalkan penggunaan lahan secara lebih efisien dan murah. Pembangunan panel surya ini tidak butuh lahan besar sehingga lahan yang minimalis pun bisa dimaksimalkan. Selain itu, panel surya bisa mengurangi penguapan air dari saluran kanal di bawahnya. Dengan begitu, kelestarian tanah dan air di area yang dibangun pembangkit listrik tenaga surya bisa lebih terjaga.  

 

Biaya pembangunan pembangkit listrik lebih murah

Keuntungan lain dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya ini adalah penghematan pada biaya operasional serta perawatan. Untuk pembangkit listrik dengan kanal 1 MW, ‘hanya’ menelan biaya sebesar $2.3 juta. Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan kanal 1 MW biasa, biaya yang dibutuhkan sebesar $2.8 juta. Bisa dilihat bahwa panel surya ini lebih hemat daripada pembangkit listrik tenaga yang lain. 

 

Daya listrik yang dihasilkan bisa lebih besar

Panel surya yang digunakan untuk pembangkit listrik ini secara kekuatan produksi listrik juga lebih besar daripada pembangkit listrik tenaga lainnya. Misalnya, pembangkit listrik tenaga surya yang dibangun di pinggiran Kota Vadodara, India. Pembangkit ini memiliki daya 10 MW. Pada bulan November 2015, pembangkit listrik ini sudah mulai beroperasi. Panel surya ini dibangun di saluran irigasi sepanjang 3.6 km. Pembangkit ini memiliki 33.800 panel surya yang dipasang pada struktur baja. Hasil listrik dari panel surya ini dihubungkan ke jaringan negara dan digunakan untuk memenuhi permintaan listrik dari stasiun pompa irigasi. 

 

Menghemat penggunaan lahan serta tidak mencemari air

Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya yang dibangun di India ini juga bisa menghemat ketersediaan lahan. Dikabarkan, pembangkit listrik 10 MW ini bisa menghemat 16 hektare lahan. Pembangkit listrik ini sekaligus juga digunakan untuk saluran irigasi dengan potensi jumlah air yang dihasilkan sebesar 90 juta liter air. Betul saja, pembangkit listrik tenaga surya yang ada di India ini memang dibangun di atas kanal, sehingga tidak membutuhkan lahan kosong sendiri. 

Pembangunan panel surya yang dilakukan di atas kanal ini pada awalnya juga menimbulkan perdebatan tentang isu lingkungan di mana bahan-bahan yang digunakan untuk operasional pembangkit listrik bisa mencemari aliran air di bawahnya. Namun, kekhawatiran ini sebenarnya tidak berdasar, karena air yang ada di kanal terus mengalir tanpa terganggu oleh sistem panel surya di atasnya. Sehingga, bahan-bahan kimia yang ada pada panel surya tidak akan merusak kualitas air dan tidak juga mengganggu aliran air pada kanal tersebut.

 

Solar water pumping system di Indonesia

Ternyata, bukan hanya di India saja panel surya bisa digunakan untuk pembangkit listrik ramah lingkungan. Di Indonesia, panel surya juga digunakan sebagai pembangkit yang bisa mengalirkan air bersih dari sumber mata air ke rumah-rumah warga. Hal ini dilakukan oleh masyarakat di Daerah Panggang, Gunung Kidul, Yogyakarta, saat ada krisis air bersih tahun 2014-2015. Panel surya ini dipasang untuk menghasilkan listrik yang disalurkan untuk kebutuhan mesin pompa air yang bertugas memompa air dari sumber mata air yang berada jauh di pegunungan ke rumah-rumah warga. 

Mulanya, warga di Gunung Kidul yang daerahnya ada di dataran tinggi mengalami kesusahan air saat musim kemarau tiba. Warga harus berjalan jauh untuk mengambil air dari sumber mata air ke rumah masing-masing. Kemudian, dibangunlah mesin pompa air bertenaga panel surya. Mesin ini memompa air dari sumber mata air, kemudian mengalirkannya ke tangki air penampungan.

 

Panel surya ramah lingkungan

Pemilihan panel surya yang digunakan untuk mengaktifkan mesin pompa air di Daerah Gunung Kidul bukanlah tanpa alasan. Panel surya ini minim dampak buruk ke lingkungan. Bisa dipastikan hampir tidak ada dampak negatif dari penggunaan panel surya untuk membangkitkan mesin pompa air. Dengan begitu, kelestarian sumber air di Gunung Kidul tidak akan terganggu. 

Sebaliknya, panel surya memberikan banyak dampak positif ke lingkungan. Panel ini menggunakan cahaya matahari untuk kemudian digunakan mengaktifkan mesin pompa air. Pompa ini kemudian bisa mengalirkan air dari sumber yang ada di pegunungan ke rumah-rumah warga. Dengan begitu, tanah dan air yang ada di sekitar tidak terganggu sama sekali. Panel ini secara gampangnya hanya ‘memindahkan’ air dari sumber di pegunungan ke rumah-rumah warga yang terletak jauh.

 

Ada rencana untuk lebih dikembangkan

Area Gunung Kidul, Yogyakarta, merupakan daerah yang sering dilanda kekeringan saat musim kemarau, sebenarnya memiliki potensi sumber daya air tersembunyi. Misalnya saja, sungai bawah tanah yang ada di Daerah Karst Gunungsewu. Di sini ada sumber air tanah potensial yang tersembunyi di kedalaman 50-100 meter di bawah tanah. 

Namun sayangnya, potensi sumber daya air tanah ini berada di lapisan tanah yang tipis dan konsentrasi alirannya berada di daerah epikarst. Lapisan tanah yang tipis bisa menimbulkan beberapa dampak yang membahayakan kehidupan warga sekitar, seperti terjadinya longsor, sampai likuifaksi yang bisa menenggelamkan segalanya.

 

Likuifaksi adalah fenomena pencairan tanah, dimana tanah kehilangan kekuatannya, sehingga tanah yang sebelumnya padat menjadi amblas. Hal ini mengakibatkan semua yang berada di atasnya ikut jatuh ke bawah. Fenomena ini pernah terjadi di Kota Palu pada 2018. Likuifaksi terjadi saat tanah kehilangan kekuatannya setelah diguncang gempa 7 SR. 

 

Aliran resapan air yang ada di sini sangat rentan pencemaran sehingga harus menggunakan teknologi yang sangat aman untuk memompanya ke atas dan mengalirkannya ke rumah warga. Panel surya bisa digunakan sebagai alternatif untuk masalah ini karena sudah terbukti ramah dan aman lingkungan. 

 

Panel surya merupakan energi yang cukup besar potensinya untuk digunakan sebagai pembangkit listrik. Panel ini juga bisa memenuhi kebutuhan lain, seperti memompa air seperti di Wilayah Gunung Kidul. Untuk informasi lebih lanjut tentang pemanfaatan dan potensi panel surya, Anda bisa menghubungi SolarKita!

Written by Rizka Rachmania Putri | 30 Jan 2020

Add Comment

Comment

No comment