Kenali Jenis dan Dampak Polusi Udara Berikut Ini

Polusi udara di Ibu Kota terus menjadi sorotan sejak beredarnya data peta polusi udara online dari Air Visual yang menunjukkan bahwa kualitas udara Jakarta menduduki peringkat ke-2 terburuk di dunia.

 

Tentu saja Anda perlu hati-hati akan adanya polusi udara karena pengaruhnya bisa sampai ke kesehatan Anda. Jika Anda hidup di daerah yang padat penduduk dengan kondisi udara yang tercemar, berikut 5 jenis polusi udara yang perlu Anda ketahui supaya bisa lebih waspada.

 

Particulate Matter (PM)

Particulate Matter atau PM adalah campuran antara partikel padat dan cari yang ada di udara dan berasal dari asap kendaraan dan pabrik. Polusi udara yang satu ini memiliki komponen yang terdiri dari nitrat, sulfat, natrium klorida, amonia, mineral debu, karbon hitam, serta air. 

 

PM merupakan salah satu jenis polusi udara yang memiliki partikel cukup berbahaya untuk kesehatan. Partikelnya tidak kasat mata dan berukuran hanya 2,5 mikron atau kurang. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mudah diserap ke jaringan paru dan akhirnya mengalir dalam darah. 

 

Jika terlalu sering menghirup udara ini, Anda berisiko penyakit jantung, pernapasan, hingga risiko kanker paru-paru. 

 

Karbon Monoksida (CO)

Polusi udara berikutnya adalah karbon monoksida yang merupakan salah satu gas yang beracun bagi tubuh. Karbon monoksida biasanya dihasilkan oleh gas, minyak, bensin, dan kayu bakar. 

 

Karbon monoksida yang masuk ke dalam sistem pernapasan akan menghambat proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin. Sehingga, serapan oksigen dalam tubuh pun jadi berkurang. Karbon monoksida bisa masuk ke dalam darah dan akibatnya pasokan oksigen ke jantung akan berkurang dan menyebabkan sesak karena tubuh kurang oksigen. 

 

Sulfur Dioksida (SO2)

Penyebab polusi udara berikutnya adalah SO2 atau Sulfur Dioksida. SO2 dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti solar, bensin, dan batu bara yang bisa juga dihasilkan oleh peleburan bijih mineral yang mengandung sulfur. 

 

Sulfur dioksida terbukti menyebabkan masalah kesehatan seperti sistem pernapasan rusak hingga iritasi mata. Selain itu, apabila Anda terpapar sulfur dioksida secara berlebihan, Anda akan mengalami gejala seperti batuk dan asma, bahkan bisa menyebabkan bronkitis kronis dan infeksi saluran pernapasan.


Nitrogen Dioksida (NO2)

Selanjutnya adalah Nitrogen Dioksida (NO2). NO2 dihasilkan oleh proses pembakaran seperti pembangkit listrik bertenaga uap, kendaraan bermotor, dan juga kapal laut. Udara yang mengandung nitrogen dioksida akan dianggap sebagai gas beracun dan membahayakan jika kandungannya mencapai 200 mikrogram per meter kubik. 

 

Dibuktikan melalui beberapa studi, nitrogen dioksida yang sering dihirup mampu meningkatkan gejala bronkitis pada anak-anak yang memiliki asma, dan mampu membuat kondisi paru-paru melemah.


Ozon (O3)

Ozon sendiri berada di atas permukaan tanah dan menjadi salah satu penyebab polusi udara. Kandungan ozon yang ada pada kabut asap terbentuk dari reaksi sinar matahari dengan polusi yang terbentuk dari emisi kendaraan bermotor dan limbah industri. Berbagai penyakit pernapasan dapat terjadi akibat kandungan ozon yang berlebih di udara. Beberapa penyakit pernapasan tersebut antara lain asma dan paru-paru.

 

Dampak bagi kesehatan 

Data terbaru World Health Organization (WHO) per Oktober 2018 menyatakan bahwa anak-anak dengan usia 5-18 tahun di seluruh dunia terkena asma akibat polusi udara. Selain itu, sekitar 543.000 anak berusia di bawah 5 tahun meninggal dunia karena penyakit pernapasan akibat polusi udara setiap tahunnya. Menurut WHO, polusi udara memang bisa menghambat perkembangan otak anak bahkan menyebabkan pneumonia. 

 

Dampak bagi lingkungan

Selain berdampak pada kesehatan, polusi udara mampu berpengaruh pada lingkungan yang efeknya bisa dirasakan seluruh dunia, contohnya seperti pemanasan global. Pemanasan global akhirnya menyebabkan pencairan es karena perubahan suhu yang juga berdampak pada perubahan iklim secara ekstrim. 

 

Hewan juga bisa terkena dampak akibat polusi udara karena mereka harus kehilangan habitat alaminya. Bahan kimia beracun akan memaksa spesies satwa liar pindah ke tempat baru. Hal ini juga terjadi kepada hewan laut karena adanya pengendapan polusi beracun di atas permukaan air. 

 

EBT solusinya
Semua polusi udara di atas dapat diselesaikan dengan Energi Baru Terbarukan (EBT), salah satunya yakni panel surya. Dengan menggunakan panel surya, polusi-polusi udara yang disebutkan di atas dapat dikurangi.

 

Panel surya merupakan salah satu pembangkit listrik ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara seperti asap, gas, atau emisi karbon sehingga kebersihan udara tetap terjaga. Panel surya juga termasuk pembangkit listrik yang tahan lama karena sumber energi dari cahaya matahari tidak akan pernah habis dan aman untuk lingkungan hidup.

 

Tertarik menggunakan panel surya di rumah untuk kebutuhan listrik sehari-hari? Yuk, pasang panel surya bersama SolarKita!

Written by Deslita Krissanta Sibuea | 18 Mar 2021

Add Comment

Comment

No comment